seft
 
seft

Main Menu


SEFT Success Story


Alumni SEFT


Product SEFT


SEFT In Media


Website Links


Blog


seft

Contact

 

Jakarta

Jl. Delima Raya No. 16
Klender, Jakarta Timur
Telp : 021 - 8660 51 51
Mobile :
021 - 9440 4178
0818 077 88 120
Fax : 021 - 8611729
 

Surabaya

Barata Jaya XIX No.25
Surabaya
Telp : 031-5010055
Fax : 031-5042152

seft

Penghargaan SEFT

 
seft muri
 
Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) Terapi berhenti merokok dengan peserta terbanyak

Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) Terapi Narkoba di LP Cipinang

seft
seft


about SEFT

   Home   

about SEFT
   Artikel



Synthetic Happiness



27 March 2009 08:06

Manakah yg lebih bahagia? orang yg dapat hadiah jutaan dolar atau orang yg tiba2 lumpuh tangan & kakinya?

Menurut hasil riset dari Dan Gilbert, psikolog peneliti dari Harvard University, dua kelompok orang tersebut dalam waktu setahun setelah musibah atau rejeki nomplok itu akan memiliki tingkat kebahagiaan yg relatif sama

Kok bisa seperti itu? ya, karena kita semua mengalami "Impact bias", yaitu kecenderungan untuk membesar-besarkan (overestimate) terhadap dampak (hedonic impact) dari peristiwa yg akan terjadi". Kita merasa akan sangat bahagia jika akan dapat rejeki nomplok, atau sangat menderita jika akan dapat musibah besar. padahal kenyatanya, begitu musibah atau rejeki itu benar2 datang, penderitaan atau kebahagiaannya tdk segede yg kita bayangkan.. jadi, yg kita bayangkan tidak segede kenyataannya.

Riset membuktikan, kejadian traumatis seperti perceraian, kecelakaan, gagal jadi caleg, rumah kebakaran, dst, jika telah terjadi lebih dari 3 bulan yang lalu, secara objektif tidak lagi berpengaruh pada tingkat kebahagiaan kita, kecuali kita sendiri yg bereaksi secara keliru hingga menderita berkepanjangan.

Sebaliknya, suatu kebahagiaan yg kita tunggu2 seperti lulus kuliah, dapat istri cantik, dapat hadiah besar, dapat pekerjaan idaman, dst. hanya berpengaruh sedikit pada tingkat kebahagiaan kita 3 bulan setelah kejadian.

Bagaimana bisa seperti itu? karena kita bisa "Membuat kebahagiaan kita sendiri" happiness can be synthesized. Simak ucapan Sir Thomas Browne (1642) " I am the happiest man alive. I have that in me that can convert poverty to riches, adversity to prosperity, and i am more invulnerable than Achilless .Fortune hath not one place to hit me". "Saya adalah orang paling bahagia di dunia, saya memiliki kebahagiaan itu di dalam diri saya (baca: saya bisa menciptakan rasa bahagia itu di dalam diri saya sendiri), dengannya saya bisa mengubah miskin menjadi kaya, kesusahan jadi kemakmuran. Saya lebih tangguh dari Achilles (siapa Achilles? lihat film TROY). Apapun yang saya alami, tidak berpengaruh pada tingkat kebahagiaan saya.

Apa yg dialami Thomas Browne dalam ilmu psikologi disebut "Psychological immune system", dan kita semua memilikinya di dalam otak kita. Kesimpulannya? Seperti yg dikatakan Shakespeare, "Tidak ada penderitaan atau kebahagiaan yg objektif, kita sendirilah yang menciptakannya".

Jadi, anda merasa depresi , stress, menderita? maka anda sendirilah (tepatnya pikiran andalah) yang bertanggung jawab atas penderitaan anda. Anda pingin bahagia? silahkan ciptakan sendiri kebahagiaan anda.. you can synthesized happiness, begitu kesimpulan dari hasil penelitian profesor Harvard, Dan Gilbert.

Sekali lagi, happiness is a choice.. so, choose to be happy.. how ?

Synthetic Happiness vs Natural Happiness

Menurut Prof. Gilbert:

kebahagiaan alami = adalah apa yg secara spontan kita rasakan ketika kita mendapatkan apa yg kita inginkan.

Kebahagiaan sintetis = adalah apa yg dengan sengaja kita pilih untuk kita pikirkan atau lakukan untuk membuat kita bahagia, ketika kita tidak mendapatkan yg kita inginkan (bahasa maduranya=menghibur diri)

Dan masalahnya kita percaya bahwa kebahagiaan sintetis tidak sebaik kebahagiaan natural. SALAH BESAR.. kebahagiaan sintesis bisa senyata dan setahan lama kebahagiaan natural.. dan lebih bisa diandalkan.. karena tidak tergantung kondisi lingkungan..

semakin kita menggantungkan kebahagiaan kita pada apa yg terjadi.. semakin kita sulit menemukan kebahagiaan, dan kita semakin rentan terombang-ambing antara bahagia dan menderita.. karena by design, dunia ini selalu diselingi dengan peristiwa baik - buruk yg silih berganti..

Sebagaimana kata-kata penutup Prof. Gilbert dalam ceramahnya di TED Show (TED.COM), "yaa, kita memang punya banyak keinginan dan harapan, ya, kita punya preferensi tentang masa depan seperti apa yg lebih kita sukai, tetapi begiu kita terlalu terobsesi dan overestimate terhadap kejadian apa yg akan membuat kita bahagia, maka kita dalam kondisi rentan untuk menderita.

jika sikap kita adalah " saya akan bahagia, jika...." maka kita rentan untuk menderita.
Jika sikap kita adalah " saya akan bahagia, walaupun...." maka kita selalu bahagia

sama dengan Cinta.. ada cinta bersyarat yg rentan untuk berubah jadi benci, (aku Mencintaimu, karena.... atau jika.......). ada cinta tak bersyarat yg dalam kondisi apapun akan tetap bertahan (aku mencintaimu, walaupun....)

Bagaimanakah anda mencintai? dengan "Cinta karena...." atau "Cinta walaupun..." ?
Bagaimanakah sikap anda ? " Bahagia, jika.. atau karena....." atau "bahagia walaupun...."?



Ahmad Faiz Zainuddin - berdasar riset Dan Gilbert, Harvard Psychologist



Artikel yang lain...





seft
seft
seft
seft
seft
seft