Enhancing Your Surrogate Technique
Use Your Thought to Change the World (Lynne McTaggart)
30 November 2009 11:52
One Case Of Surrogacy
Satu kisah tentang Surrogate SEFT... berikut adalah kisah nyata dari seorang alumni pelatihan SEFT Total Solution yang biasa disebut dengan SEFTer. Ia mengisahkan pengalamannya, men-surrogate adiknya yang punya sakit jantung bawaan...
Aku menghentikan mobil tepat di depan rumah orang tua kami. Sebelum kakiku menginjak tanah, ponselku berbunyi. Dari seberang, terdengar suara Rani. Amat berat. “Dia membatalkan rencana pernikahan kami…” Setelah itu yang tersisa hanya diam. Sepertinya tidak ada lagi air mata. Yang ada hanya cekatan-cekatan yang meluruhkan sendi hati. “Aku terbang ke sana, ya?,” sambung suara di seberang.
“Kemarilah, pesanlah tiket dan aku tunggu di bandara. Kuatlah. Sampailah sini. Biar kutemani kau”. Hanya itu yang bisa kukatakan. Selebihnya aku hanya nanar. Bagaimana bisa, Abdul membatalkan pernikahan dengan Rani yang tinggal dua hari lagi. Apa yang salah. Salahkah penilaian kami terhadap Abdul. Atau benarkah “keraguanku” selama ini.
Buliran bening mengalir juga di pipiku. Aku merasa... tiba-tiba kakiku menjadi pendek. Karena aku tak tahu harus bagaimana menolongnya dari kejauhan. Membantunya tetap berdiri. Memastikan bahwa dia tidak menginginkan kematian karena putus asa. Rasa tak berdaya ini akhirnya memecahkan tangisku. Tersedu. Tangis itu baru berhenti setelah tangan suamiku menggengam erat “Jangan larut, tahan, tahan.”
Aku menunggu di ruang makan, dengan perasaan tak menentu, karena baru saja Rani mengabarkan, hanya ada pesawat pukul 10 malam. Itupun delay karena ada trouble engine. Kegelisahanku terjawab. Tepat pukul 4 sore “Aku gak kuat, dadaku sesak” begitu bunyi pesan tak bersuara itu. Aku memandang mata suamiku mengabarkan ketakberdayaan. Aku takut, jantung Rani yang lemah sejak kecil tidak mampu menahan beban ini. Dia paham. Dan ponselkupun jatuh ke tangannya. Di luar dugaan, dia berlari. Sayup-sayup kudengar orang muntah berkali-kali lalu senyap.
Hening…
Beberapa saat, aku mulai curiga, suamiku tak muncul lagi dan kuputuskan melihatnya. Suamiku bersandar di wastafel dengan badan bergetar. Ia hanya diam. Setelah kutembus matanya, aku baru tahu apa yang harus kulakukan. Dengan perasaan tak menentu, aku tapping badannya. Tanpa Set Up. Satu putaran, dia lalu berdiri, berjalan ke arah dapur. Mengambil air segelas penuh dan meminumnya. “Kau tak apa?” Dia tersenyum sambil berkata “Untung kau datang.” Ganti aku yang terduduk dengan keringat bercucuran. Meski hanya tiga menit, aku merasa sangat lelah. Seperti berjalan jauh tanpa air...
Ponselku bergetar perlahan… “Alhamdulillah, Kak… Aku udah bisa berdiri. Makasih. Tadi rasanya langit mau runtuh. Gelap. Aku hanya mampu memeluk ponselku” Aku tertegun membaca kalimat itu. Benarkah? Lalu, sebegitu mampukah apa yang kulakukan untuk membuat Rani bertahan ketika ada di ujung bumi?
Aku masih terdiam, kala suamiku menggambilkan segelas air untuk kuminum… Dia bercerrita, begitu memegang ponselku, dia merasa jiwa Rani masuk dalam tubuhnya. Berat. Tiba-tiba dia merasa dadanya sangat sesak. Lalu ia muntah hingga badannya bergetar. Ketika berusaha mengangkat tangan, lengannya terasa lunglai. Aku menatapnya penuh. “Kau tak apa?” Dia hanya tersenyum.
Mataku memandang nyalang ke arah pintu kedatangan domestik. Aku melirik arlojiku. Jam 11. Mana Rani? “Aku dah sampai bandara” seuntai kalimat menyerbu ponselku. Bergegas aku memacu langkah. Aku menemukannya dalam sorot mata kuyu. Ia berlari sebelum tumpah di pelukanku. Antara kelu, lega dan luruh bercampur. Setidaknya aku bisa memastikan dia bisa sampai kota ini tanpa halangan berarti meski dengan hati carut marut.
“Kak, untung kau surrogate aku. Aku tidak tahu apa jadinya jika kau tak menolongku dari sini. Karena semuanya terasa gelap. Sangat gelap dan berat. Langit terasa pendek hendak menghimpitku.” Lama aku terdiam, membiarkan tanganku mendekapnya. Tiba-tiba ada yang mengalir sejuk di hatiku. Mungkin karena aku merasa tetap bisa menjaganya meski jarak memisahkan kami dan tidak berpikir apa yang telah kulakukan. Terima kasih Tuhan...
The How of Surrogating
Anda mungkin bertanya, bagaimana caranya? Berikut kita coba bedah bersama-sama.
SET UP untuk niat menghubungkan energi...
Dalam contoh kasus di atas, niat menghubungkan energi tidak ada karena suami ibu X, begitu menyentuh ponsel yang berisi SMS dari Rani, energinya langsung terhubung. Namun kondisi ini sangat relatif. Satu diantara seribu. Pada umumnya, dalam kondisi biasa, Anda perlu menghubungkan energi sebagai langkah pertama untuk melakukan surrogate.
Yang bisa Anda lakukan adalah: menekan sorespot Anda atau mengetuk ringan titik karate cop Anda seraya berniat; “ Ya Tuhan, saat ini saya X (nama Anda) berniat untuk mewakili Y (nama orang yang akan Anda surrogate)...” Ulang kalimat ini sebanyak tiga kali.
SET UP untuk menyelesaikan masalah...
Dalam contoh di atas, Ibu X tidak secara spesifik menyebutkan kalimat SET UP-nya... Saya coba merekanya sebagai berikut; “ Ya Tuhan, walaupun saat ini dada saya terasa sangat sesak seakan langit runtuh menghimpit saya, saya ikhlas menerimanya... dan saya pasrahkan kepadamu kesembuhan saya...”
Tune In, berempati terhadap masalah...
Pada kisah di atas, suami Bu X secara otomatis sudah mengalami tune in ketika ia merasa seakan dadanya sesak dan pandangan matanya gelap hingga akhirnya muntah. Namun sekali lagi, ini kasus yang sangat jarang terjadi. Pada kondisi normal, Anda mungkin perlu berupaya keras untuk berempati terhadap masalah yang dihadapi oleh klien Anda.
Tapping...
Pada kisah di atas, suami Bu X tidak mampu melakukan tapping untuk dirinya sendiri karena terlanjur lemas. Oleh sebab itu, Bu X lah yang men-tapping tubuh sang suami yang sedang terhubung dengan Rani. Pada kondisi biasa, Anda langsung saja mengetuk 9 atau 18 titik SEFT, sembari terus berkonsentrasi masalah yang dialami oleh klien Anda.
SET UP untuk niat memutus sambungan energi...
Yang bisa Anda lakukan adalah: menekan sorespot Anda atau mengetuk ringan titik karate cop Anda seraya berniat; “Ya Tuhan, saat ini saya X (nama Anda) saat ini berniat untuk tidak lagi mewakili Y (nama orang yang akan Anda surrogate)... Semoga Y diberikan kemudahan untuk menyelesaikan masalahnya...” Ulang kalimat ini sebanyak tiga kali.
Enhance Your Surrogate SEFT Success Rate
Lalu bagaimana jika Anda tidak berhasil melakukan surrogate? Berikut ini adalah cara untuk meningkatkan efektifitas teknik Anda.
Sering melakukan SEFT secara langsung
Jika Anda sering mencoba melakukan SEFT one on one, maka Anda akan mendapat kekayaan pengalaman untuk memahami masalah orang lebih dalam. Misal, jika Anda ingin melakukan surrogate SEFT pada bos yang tempramental, maka Anda setidaknya harus pernah mencoba mengatasi masalah orang yang tempramental secara langsung. Anda akan tahu latar belakang masalah, reaksi saat dia di-SEFT dan sebagainya. Semakin sering maka semakin baik.
Meningkatkan aspek spiritualitas Anda
Prinsip utama yang membedakan antara SEFT dengan energi terapi yang lain adalah prinsip spiritualitasnya. Doa. Jadi jika Anda ingin meningkatkan efektifitas surrogate Anda, maka yang harus dilakukan adalah memperbaiki cara Anda berdoa. Saya mengutip penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti spiritualitas untuk menjelaskan hal ini. Tiga prinsip doa yang efektif menurut Larry Dossey, M.D.;
the depth of the prayer
Hal ini merujuk pada kedalaman atau seberapa fokus dari orang yang mendoakan. Dalam kasus ini, melakukan surrogate. Semakin Anda dapat memfokuskan diri pada orang yang Anda surrogate maka akan semakin tinggi tingkat keberhasilan Anda.
the sincerity of the prayer
Tulus. Semakin Anda berniat untuk membantu orang yang Anda surrogate tanpa tendensi apapun, maka teknik ini akan semakin efektif.
the love of the prayer
Semakin Anda dapat meniatkan untuk mengirimkan vibarisi cinta pada orang yang Anda surrogate, maka semakin mudah pula masalah orang tersebut akan terselesaikan. Ingat, gelombang cinta memiliki frekuensi yang paling tinggi dan paling dahsyat!!!
Selamat mencoba...
Tari Agustini |