seft
 
seft

Main Menu


SEFT Success Story


Alumni SEFT


Product SEFT


SEFT In Media


Website Links


Blog


seft

Contact

 

Jakarta

Jl. Delima Raya No. 16
Klender, Jakarta Timur
Telp : 021 - 8660 51 51
Mobile :
021 - 9440 4178
0818 077 88 120
Fax : 021 - 8611729
 

Surabaya

Barata Jaya XIX No.25
Surabaya
Telp : 031-5010055
Fax : 031-5042152

seft

Penghargaan SEFT

 
seft muri
 
Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) Terapi berhenti merokok dengan peserta terbanyak

Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) Terapi Narkoba di LP Cipinang

seft
seft


about SEFT

   Home   

about SEFT
   Kisah



Akhirnya, Aku Bisa Beli Ubi Cilembu



8 July 2007 01:01

Mungkin hari kemarin
adalah hari terberat untuk bagi saya…
Di luar batas keinginan
sayaharus membayangkan sebuah peristiwa
yang selama ini tidak ingin saya ingat kembali…
ini semua tanpa rencana kecuali Alloh berkehendak.
Pada jam yang sama,
ketika peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu.
Saya merasakan kehadiran ibunda tercinta,
seakan menuntun saya
menapak tilas jejak langkah kakinya.
Yang saat itu mungkin sudah terasa berat,
hanya untuk mendapatkan beberapa ubi cilembu,
permintaan ayah yang sedang terbaring karena kanker yang
menggerogoti sebagian tubuhnya.
Memang ubi cilembu tidak pernah sempat dicicipi ayah.
Bahkan janji ibu untuk segera pulang
tidak pernah terwujud….
Tapi janji suci pada Ilahi untuk sehidup semati sudah mereka tepati.
Seratus hari kemudian ayah menyusul kekasih hatinya.



Ini adalah bait –bait puisi yang di bacakan dengan segenap perasaan dan berurai air mata, oleh perempuan cantik setengah baya di depan peserta pelatihan SEFT Juli 2007 lalu. Puisi ini khusus dirangkai di sela - sela pelatihan, dipersembahkan untuk Ahmad Faiz Zainuddin – Master SEFT.

Puisi itu terdengar bergetar. Juga ada tangan yang bergetar. Dan tetesan air mata keharuanpun tak tertahankan. Bukan hanya perempuan cantik itu, yang meneteskan air mata. Sebagian peserta juga larut dalam keharuan.

Sepertinya, semua jiwa yang hadir di ruangan itu, sangat merasakan kebesaran Ilahi. Bahwa Tuhan bersama orang - orang yang ikhlas dan berserah. Dan tak pernah pergi sedetikpun.

Puisi ini ungkapan kelegaan Rita, begitu ia biasa dipanggil. Mantan dosen Universitas Indonesia ini, malam sebelumnya berhasil menapaki tangga demi tangga lantai sebuah mall di kawasan Jakarta dan membeli ubi cilembu!

Mungkin sekilas apa yang dilakukan ibu muda ini hal biasa. Berbelanja di mall. Tapi tidak bagi Rita. Karena untuk membeli ubi cilembu di mall tersebut, butuh keberanian luar biasa. Dan setahun terakhir dia tidak pernah memiliki keberanian itu.

Dengan tersendat bu Rita cerita, apa sebenarnya yang membuat dia punya pengalaman yang menorehkan trauma mendalam.

Sekitar setahun lalu, almarhum ibu tercintanya meninggal saat berbelanja di mall tersebut. Dan sedang membeli ubi cilembu. Karena serangan jantung mendadak, ibu akhirnya tidak tertolong dan berujung pada ajal. Kejadian ini menjadi pukulan keras pada batihnnya yang lembut.

Sebagai seorang budayawan yang sering menulis di berbagai tentulah kelembutan hati muslimah cantik ini tidak perlu diragukan. Dan kejadian itu menjadi satu bagianterberat dalam hidupnya, hingga ia harus mundur dari berbagai aktifitas dan menjalani terapi kejiwaan.

Keinginan untuk bangkit dan sembuh menjadi dorongan kuat untuk mengikuti pelatihan SEFT. Harapannya hanya satu, sembuh! Dengan izin Tuhan, ibu Rita mendapat kesemoatan untuk di – tapping langsung oleh Ahmad Faiz.

Sepanjang tapping dilakukan, ibu Rita menangis tersedu. Karena sambil men-tapping, Ahmad Faiz menggunakan jurus profokasi. Maksudnya, merangsang si ibu cantik ini agar mengungkapkan segala ketakutannya dan diminta terus mengucapkan ketakutannya sambil dibarengi dengan ungkapan kepasrahan pada Tuhan.

“Ya Alloh, meskipun saya takut ke mall itu untuk beli ubi cilembu, padahal nanti malam saya harus kesana, saya ikhlas, saya pasrah…..” Kalimat ini yang terus diucapkan berulang ulang oleh bu Rita dipandu Ahmad Faiz. Sambil tak henti, Ahmad Faiz men-tapping di titik - titik akupuntur bu Rita.

Keesokan harinya ia kembali hadir di ruang pelatihan sambil membagikan ubi cilembu pada peserta. Dan menyuguhkan satu piring kecil ubi cilembu dan secarik kertas berisi puisi untuk Ahmad Faiz Zainuddin. Rona wajahnya juga terlihat lebih cerah.

“ Yah, masih gemetar mbak, tapi saya sudah berani dan berhasil beli ubi itu. Saya ditemani suami, tapi begitu sampai tengah mall, saya sengaja ditinggal dan diminta terus berdzikir. Dan setelah keluar mall, rasanya badan saya lemas,” ungkapnya haru. Seperti tak percaya, bahwa trauma itu bisa sembuh. (may)


Narasumber: Rita F Herlambang – Depok, Jawa Barat. Alumni pelatihan SEFT angkatan IX. Wiraswasta, budayawan, Mantan dosen Arkheologi Sastra Universitas Indonesia.




Kisah yang lain...





seft
seft
seft
seft
seft
seft