 |
|
Main Menu
|
|
|
|
|
Contact
|
|
|
Jakarta
Jl. Delima Raya No. 16
Klender, Jakarta Timur
Telp : 021 - 8660 51 51
Mobile : 0818 077 88 120
Fax : 021 - 8611729
|
|
|
Surabaya
Barata Jaya XIX No.25
Surabaya
Telp : 031-5010055
Fax : 031-5042152
|
|
|
Penghargaan SEFT
|
|
|
|
|
|
|
|
Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) Terapi berhenti merokok dengan peserta terbanyak
|
|
|
|
Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) Terapi Narkoba di LP Cipinang
|
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
 |
Mapping The Roots of Corporate Problem
Banyak perusahaan mengeluh dengan kinerja pegawainya. Para manager HRD atau kepala personalia dibuat pusing. Seluruh potensi sudah dikerahkan. Gaji sudah besar, pelatihan teknis sudah diselenggarakan, berbagai bonus untuk merangsang semangat karyawan juga sudah diberikan. Keluhan-keluhan semacam itu terjadi hampir di semua perusahaan dan belum ada jalan keluarnya.
Selama ini perusahaan-perusahaan memang dikelola secara teknis, sehingga standar yang diterapkan juga terkait kemampuan teknis. Kalaupun dilakukan psikotes untuk karyawan, sifatnya hanya untuk mengetahui profil psikologi dasar calon pegawai saja. Lalu apa yang salah dengan yang dilakukan perusahaan? Yang dilakukan perusahaan bukan salah, tapi kurang dalam mengatasi problem kinerja karyawan. Perusahaan masih banyak yang mengabaikan aspek non teknis yang dialami karyawannya. Ada dua hal yang harus selalu diperhatikan untuk memacu kinerja karyawan di sebuah perusahaan, yaitu kompetensi dan karakter..
Kompetensi, berkaitan dengan kemampuan seseorang di bidang teknis, seperti karyawan bagian administrasi, diharapkan memiliki kemampuan mengetik, menata file, atau mengatur jadwal. Sedangkan karakter terkait dengan sikap dan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di pekerjaan
Lalu bagaimana untuk meningkatkan karakter karyawan?
Selain peningkatan kemampuan teknis, pada bidang ini perusahaan juga harus memberikan pelatihan yang memberikan bekal kemampuan non teknis itu. Ia menyebut pola pendidikan berbasis karakter.
Pola pendidikan berbasis karakter, akan banyak membantu mengatasi masalah non teknis yang dialami oleh perusahaan. Ahmad Faiz Zainuddin mencoba menggagas model pengembangan diri secara holistik. Metode SEFT memberikan kesempatan bagi manusia untuk mengembangkan tujuh potensi dasar yang sebenarnya sudah dimilikinya.
Tujuh dimensi itu adalah spiritual sebagai inti, loving heart, positive quest, healthy lifestyle, enlightened entrepreneur, sense of beauty, dan self integrity. Bila semua dimensi itu dapat dioptimalkan, maka keluhan pimpinan perusahaan terhadap kinerja karyawannya akan teratasi.
Ahmad Faiz Zainuddin juga memperkenalkan Conceptual Framework untuk pengembangan diri secara holistik dalam gambar berikut: The Holistic Person Empowerment System (The HoPES®)
|
|
|
|
|
|